| (image from daengbattala[dot]com/foto oleh abu ghalib) |
kontan saja teman-teman penulis menelurkan statemen masing-masing secara suka rela (anggap saja semua yang hadir pada waktu itu, mau untuk membicarakannya). ada yang langsung tidak sepakat, (mirip suasana kongres), karena kehilangan waktu seperti ini, katanya. waktu buat kongkow-kongkow di warung kopi, relaks, dan suasana yang penuh intermezzo.ada yang bilang 'gak asik, karena 'gak liat sunset atau matahari terbenam (yang bersangkutan sama keadaannya dengan penulis, sering terlambat bangun dan matahari meninggilah). kawan lain berkata, bahwa senja merupakan waktu peralihan. ada kesibukan di siang hari dan ada kesibukan di mlam hari. senja, waktu kita istirahat sejenak. ada yang lebih dulu mempertanyakan senja itu sendiri. definisi senja menurut dia , adalah waktu terbenamnya matahari. dan statemennya langsung disanggah oleh kawan yang lain, bahwa senja itu katanya, merupakan masa setelah terbenamnya matahari, karena matahari tak lagi menerangi langit. ada yang berkata bahwa bila senja tak ada, maka taka akan ada kisah-kisah indah percintaan dia. yang bersangkutan, sering menghabiskan waktu sore sepulang kuliah dengan sang kekasih. ada yang menimpali bahwa bila senja tak hadir atau tak pernah ada, maka senja tak akan menemaninya menunggu sang kekasih pujaannya di tiap hari.dan tak akan ada semburat warna-warna indah di langit sore guna menghibur dan menemani kesabarannya, katanya agak filosofis. mungkin saja malam yang ada lanjut dia lagi,--nah , ini agak berbau saintis-- akan lebih gelap lagi, karena hilangnya waktu senja. ada yang berkata, bahwa senja adalah nama pertama yang ia buat sendiri untuk setiap nama gadis yang dikenalnya. karena di waktu senjalah ia bisa dengan leluasa bercengkrama dengan kekasihnya itu. jadi, katanya, bila tak ada senja maka mungkin tidak ada gadis yang lahir di dunia ini. statemennya ditutup dengan suara tertawanya. ada yang bilang lagi, bahwa, bila tak ada senja, maka ia segera kehilangan tempat berbagi cerita. bagai sesuatu yang terus dinanti dan terus dirindui setiap hari. meski terkadang yang dibagi itu hanyalah air mata saja.--di sini teman-teman lain terdiam-- . kalau tak ada senja , katanya lagi, mungkin lagu Hatiku Sunyi-nya bang Tantowi Yahya tidak akan terkenal.
penulis sendiri berpendapat bahwa, waktu senja ada untuk memastikan semua orang merasa berbahagia dengan kehadirannya. tak peduli apakah malam akan datang dengan segala kekhawatiran yang terdapat padanya. dan langit malam tak bersedih dikarenakan gelap dan pekat wujudnya yang ia hadirkan pada orang tersebut. apakah malam nanti ia akan terus berbahagia atau berganti dengan kesedihan, tak jadi soal. karena senja tadi ia telah berbahagia dengan caranya masing-masing.
jadi, bila hari tanpa senja ???
0 comments:
Post a Comment