| ( |
Sepertinya sang mentari yang telah berhasil. Membangkitkan orang itu dari tidurnya. Dan tampaknya alunan harapan dari suara alarm jam weker dan handphone telah didengar sang kuasa. Lewat panasnya matahari, laki-laki itu terbangun. Setengah terhentak, ia mengumpat. Pukul setengah sebelas siang, dan itu bukan waktu yang direkomdasikan untuk memulai aktifitas kerja. Sangat tidak direkomendasikan.
Segera ia menuju kamar mandi dan dengan terburu-buru berpakaian. Tas kecil yang selalu menemani beraktifitas segera diambil.Ia mengunci pintu rumah dengan lampu teras yang masih menyala. Sangat ditunjang dengan potongan rambut agak plontos, dibalut kemeja biru motif kotak lengan pendek yang licin dan celana panjang canvast hitam, ia terlihat sangat gagah sekarang. Tanpa kesulitan menemukan pete-pete yang sesuai dengan jalur menuju kantornya, ia melirik jam tangan. Pukul 10.55 sekarang. Tempat kosong yang tersisa hanyalah kursi yang berada persis di belakang kursi depan. Tepatnya berada di tengah-tengah kursi penumpang kiri dan kanan. Dan hal itu yang paling tidak ia senangi. Teman-temannya pernah berkelakar bahwa kursi itu cocoknya untuk orang yang suka cari perhatian.Atau bagi mereka yang penuh percaya diri. Ingin dilihat oleh seluruh penumpang pete-pete. Mereka menyebutnya kursi TV. Orang yang duduk disitu laksana sebuah televisi. Jadi bahan tontonan selama perjalanan.
Ah, itu bukan masalah sekarang. Masalahnya akan muncul entah berapa lama lagi. Bisa seperempat jam, setengah jam, atau satu jam dari sekarang. Ia berfikir alasan apa lagi yang harus diperhadapkan pada sang bos. Atau bisa saja mulai dari sekarang. Bila sopir pete-pete sangat menikmati rute macetnya jalan. Perlahan-lahan ia menemui wajah penumpang yang lain.Kebanyakan para karyawan dan pegawai instansi pemerintah. Beberapa diantaranya para wanita. Ah, andai saja. Ia memaki dalam hati kemudian merogoh saku celana mencari sebungkus rokok. Ah, ia memaki lagi. Belum sabatang rokopun mampir sedari tersadarnya ia. Sangat tidak dianjurkan pula merokok dalam pete-pete yang notabene saran public. Dengan helaan nafas pendek yang tidak kentara, ia melihat ke depan. Ke arah jalan raya, melalui kaca belakang mobil. Dan untungnya hari ini cuaca tampaknya tidak terlalu panas.
Gangguan kecilnya datang lebih awal. Agak tidak percaya, ia membalas senyuman seorang laki-laki. Mungkin, yang empunya senyuman sedari tadi telah menyunggingkan bibir untuknya. Tapi, membutuhkan beberapa waktu untuk menyadari itu. Laki-laki itu masih tersenyum kepadanya. Sambil memperhatikan diri dan pakaiannya yang memang tidak ada yang salah, ia coba menduga. Dan sekarang aksi lelaki itu ditambah anggukan kepala yang halus. Ia malah melewatkan itu. Memandang sekenanya ke arah samping, mencoba menerka-nerka siapa gerangan laki-laki ini. Tak ada satupun wajah dari wajah teman-temannya yang mampir. Mungkin teman lama..? Satu almamater di universitas...? Atau masa-masa sekolahan ? Ah, tidak juga. Ia memberanikan diri melihat lagi wajah sang lelaki. Dan masih tersenyum. Ia mencoba beradu mata dengannya. Mencari sesuatu di sana. Memori yang mungkin disisakan untuknya. Setelah cukup lama, ia mantap menggelengkan kepala. Si lelaki yang punya senyuman, masih tersenyum. Sepertinya ia tertawa kecil sekarang. Menertawai kebodohannya mungkin. Menertawai kealpaannya. Menertawai dirinya secara langsung.
Naluri itu masih dapat ditahan. Naluri untuk membela harga diri yang seakan diremehkan di tempat umum masih bisa ia atasi. Dengan agak jengkel ia kembali memperhatikan jalan raya. Tinggal beberapa meter lagi ia tiba di kantornya. Mungkin, teman-teman sudah ada di kantin sebagian. Mengikuti alur pete-pete yang jalan melambat sekarang, ia pelan-pelan berfikir. Aksi apa yang bagus untuk laki-laki ini. Untuk memberikan pelajaran bagaimana orang bersikap pada pertemuan pertama. Untuk menghentikan aksi kekurangajarannya. Untuk menyudahi sikap merendahkann dirinya di depan umum. Tiga alasan ini tampaknya bagus untuk dikemukakan. Dan itu bukan sebuah kesalahan atau tindakan kriminal. Mungkin sang lelaki ini hanya akan menerima umpatan, dihardik di depan penumpang yang masih ada. Atau mungkin, sang lelaki ini akan menerima ancaman di depan umum. Atau, apalah itu. Yang penting, akan memberinya sebuah kesan.
"Kiri, pak !", hampir saja ia melewati halaman kantornya. Disebabkan lelaki itu. Ketika akan turun dari pete-pete, ia masih melihat senyuman lelaki itu sekali lagi. Ia segera turun. Ia tidak mengambil aksi apa-apa. Segera rencana kecil yang ia susun sebelum turun buyar dengan tiba-tiba. ia merogoh kantong celana mencari uang kecil untuk membayar ongkos pete-petenya.
"Jalan saja, Pak !" seseorang berteriak tiba-tiba dari dalam pete-pete. Suara lelaki yang dari tadi tersenyum kepadanya. Ia semakin tidak mengerti.
"Nanti saya yang bayar, Pak !" ia berteriak sekali lagi dan segera sopir pete-pete memacu mobilnya. Dan lelaki itu masih tersenyum melewatinya.
Cukup sudah. Suara bass lelaki itu, tampaknya tidak asing. Pernah terekam dalam memori suara, tapi tidak memiliki gambar. Suara bass lelaki itu menyadarkan semuanya. Siapa dirinya yang dari tadi tersenyum kecil dan agak tertawa kepadanaya. Suara bass yang sama di malam yang dingin. Suara bass yang sama dengan teriakan "maling" beberapa bulan yang lalu. Ah, andai saja. Ia kembali mengumpat dalam hati.
0 comments:
Post a Comment