Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

orang-orang primitif

Written By Z's on Friday, December 2, 2011 | 10:17 AM

image from google
setelah melirik agak canggung di pintu masuk, dengan tentengan tas lebar, laki-laki itu menduduki meja terdekat. hanya ditempati tiga dari empat orang yang dapat dipenuhinya. senafas dengan ketiga orang sebelumnya, ia menyalakan laptop dan menunggu sabar.

seseorang mendatanginya kemudian, sambil mencatat sesuatu dan pergi bergegas.

seketika saja cahaya menenrangi wajahnya yang agak lusuh, mungkin karena baru bangun tidur. menekan beberapa tuts keyboard dan mengetikkan sesuatu. tanpa melihat sekelilingnya, masing-masing dari mereka di tiap-tiap meja mulai mendirikan pagar di benteng masing-masing. mengharap rasa aman dengan kesendiriannya di ceruk-ceruk teknologi.

orang-orang primitif masih sering berbagi makanan, tarian dan nyanyian
orang-orang primitif masih selalu tersenyum pada malam-malam dingin
orang-orang primitif selalu ingin pulang

kini kita bahkan lebih menyedihkan...
10:17 AM | 0 comments

bila hari tanpa senja

foto oleh Abu Ghalib
(image from daengbattala[dot]com/foto oleh abu ghalib)
pernah iseng-iseng penulis melontarkan pertanyaan kepada beberapa kawan sambil duduk-duduk santai di sebuah warung kopi sesaat setelah lelah beraktifitas di kampus merah. mungkin karena bosan dengan rutinitas kampus maka pembicaraan pun dialihkan dengan topik yang terus menerus didominasi dengan masalah kewanitaan (baca : pacar dan odo'-odo'). hal yang paling menarik dan dijadikan persamaan dari pembicaraan kami, dan lucunya semua yang hadir di warung kopi tersebut merasa sepakat untuk bersyukur atas diketengahkannya oleh Sang Maha Kuasa waktu yang disebut senja. dari mulai yang manis-manisnya cerita (tentang cintanya pada sang pacar), kisah-kisah indah tiap hari di waktu senja, cerita-cerita yang memerah biru, janji-janji di waktu senja, hingga putusnya ikatan dan kisah indah pada waktu senja pula. jadi, setelah lama bercerita dan bercanda dengan berbagai nada yang agak menghina, penulis mencoba melemparkan suatu asumsi bahwa ini semua tidak akan terjadi, bila tidak ada waktu yang disebut senja atau senja hari. dan mulailah wacana yang agak terdengar agak menggelikan dimunculkan. bagaimana bila hari tanpa senja...??

kontan saja teman-teman penulis menelurkan statemen masing-masing secara suka rela (anggap saja semua yang hadir pada waktu itu, mau untuk membicarakannya). ada yang langsung tidak sepakat, (mirip suasana kongres), karena kehilangan waktu seperti ini, katanya. waktu buat kongkow-kongkow di warung kopi, relaks, dan suasana yang penuh intermezzo.ada yang bilang 'gak asik, karena 'gak liat sunset atau matahari terbenam (yang bersangkutan sama keadaannya dengan penulis, sering terlambat bangun dan matahari meninggilah). kawan lain berkata, bahwa senja merupakan waktu peralihan. ada kesibukan di siang hari dan ada kesibukan di mlam hari. senja, waktu kita istirahat sejenak. ada yang lebih dulu mempertanyakan senja itu sendiri. definisi senja menurut dia , adalah waktu terbenamnya matahari. dan statemennya langsung disanggah oleh kawan yang lain, bahwa senja itu katanya, merupakan masa setelah terbenamnya matahari, karena matahari tak lagi menerangi langit. ada yang berkata bahwa bila senja tak ada, maka taka akan ada kisah-kisah indah percintaan dia. yang bersangkutan, sering menghabiskan waktu sore sepulang kuliah dengan sang kekasih. ada yang menimpali bahwa bila senja tak hadir atau tak pernah ada, maka senja tak akan menemaninya menunggu sang kekasih pujaannya di tiap hari.dan tak akan ada semburat warna-warna indah di langit sore guna menghibur dan menemani kesabarannya, katanya agak filosofis. mungkin saja malam yang ada lanjut dia lagi,--nah , ini agak berbau saintis-- akan lebih gelap lagi, karena hilangnya waktu senja. ada yang berkata, bahwa senja adalah nama pertama yang ia buat sendiri untuk setiap nama gadis yang dikenalnya. karena di waktu senjalah ia bisa dengan leluasa bercengkrama dengan kekasihnya itu. jadi, katanya, bila tak ada senja maka mungkin tidak ada gadis yang lahir di dunia ini. statemennya ditutup dengan suara tertawanya. ada yang bilang lagi, bahwa, bila tak ada senja, maka ia segera kehilangan tempat berbagi cerita. bagai sesuatu yang terus dinanti dan terus dirindui setiap hari. meski terkadang yang dibagi itu hanyalah air mata saja.--di sini teman-teman lain terdiam-- . kalau tak ada senja , katanya lagi, mungkin lagu Hatiku Sunyi-nya bang Tantowi Yahya tidak akan terkenal.
penulis sendiri berpendapat bahwa, waktu senja ada untuk memastikan semua orang merasa berbahagia dengan kehadirannya. tak peduli apakah malam akan datang dengan segala kekhawatiran yang terdapat padanya. dan langit malam tak bersedih dikarenakan gelap dan pekat wujudnya yang ia hadirkan pada orang tersebut. apakah malam nanti ia akan terus berbahagia atau berganti dengan kesedihan, tak jadi soal. karena senja tadi ia telah berbahagia dengan caranya masing-masing.

jadi, bila hari tanpa senja ???
9:23 AM | 0 comments

ringannya cinta

setiap masa memiliki waktu untuk menukilkan cerita mengenai cinta dan percintaannya sendiri-sendiri. sesegar kopi di malam yang dingin, secerah asa di tiap hembusan asap rokok. mereka hadir sesuai dengan kebutuhan masing-masing. sikap dan perilaku yang kontan ditunjukkan sang pemegang kuasa. dan sejatinya bukan karena pengalaman, hanya dilakukan berulang-ulang.

(image from being40plus[dot]com)
dan memang, tidak ada yang abadi. (apakah memang hanya kepentingan ?) lebih suka saya menyebutkan dengan kekuasaan. ya, sang pemegang kuasa lah yang memiliki kepentingan itu. kekasih yang gagah atau yang ayu, menyiratkan betapa penuh kuasanya atas diri kekasihnya itu. menyintai sepenuh jiwa mendeskripsikan pada kita, betapa bangganya ia. menegaskan kepada khalayak ramai betapa tak seorang pun yang dapat menggoyang kekuasaannya itu.
mencintai hanya sang pemilik cinta, memproklamirkan diri dengan segenap kekuasaan atas dirinya, maaf kami memiliki kelebihan atas diri kamu sekalian.

sebagai manifestasi dari sang pemilik kuasa, terkadang sikap manusia melebihi sang empunya kuasa. strategi mumpung, masih memiliki secuil kuasa tak ayal digunakan untuk segala hal. kuasa cinta yang sepenuhnya untuk sang empunya kuasa pun, tak ketinggalan kena imbas yang berlebihan. mencintai dengan seadanya, dan dengan seadanya itupula menyeka air mata. mencintai sekenanya, dan sekenanya saja melupakan cintanya. cinta menuju kesempurnaan, sempurna dulu baru mencinta yang maha sempurna.
9:18 AM | 0 comments

senyuman lelaki

(image from sodahead[dot]com/fun)
Sepertinya sang mentari yang telah berhasil. Membangkitkan orang itu dari tidurnya. Dan tampaknya alunan harapan dari suara alarm jam weker dan handphone telah didengar sang kuasa. Lewat panasnya matahari, laki-laki itu terbangun. Setengah terhentak, ia mengumpat. Pukul setengah sebelas siang, dan itu bukan waktu yang direkomdasikan untuk memulai aktifitas kerja. Sangat tidak direkomendasikan.


Segera ia menuju kamar mandi dan dengan terburu-buru berpakaian. Tas kecil yang selalu menemani beraktifitas segera diambil.Ia mengunci pintu rumah dengan lampu teras yang masih menyala. Sangat ditunjang dengan potongan rambut agak plontos, dibalut kemeja biru motif kotak lengan pendek yang licin dan celana panjang canvast hitam, ia terlihat sangat gagah sekarang. Tanpa kesulitan menemukan pete-pete yang sesuai dengan jalur menuju kantornya, ia melirik jam tangan. Pukul 10.55 sekarang. Tempat kosong yang tersisa hanyalah kursi yang berada persis di belakang kursi depan. Tepatnya berada di tengah-tengah kursi penumpang kiri dan kanan. Dan hal itu yang paling tidak ia senangi. Teman-temannya pernah berkelakar bahwa kursi itu cocoknya untuk orang yang suka cari perhatian.Atau bagi mereka yang penuh percaya diri. Ingin dilihat oleh seluruh penumpang pete-pete. Mereka menyebutnya kursi TV. Orang yang duduk disitu laksana sebuah televisi. Jadi bahan tontonan selama perjalanan.

Ah, itu bukan masalah sekarang. Masalahnya akan muncul entah berapa lama lagi. Bisa seperempat jam, setengah jam, atau satu jam dari sekarang. Ia berfikir alasan apa lagi yang harus diperhadapkan pada sang bos. Atau bisa saja mulai dari sekarang. Bila sopir pete-pete sangat menikmati rute macetnya jalan. Perlahan-lahan ia menemui wajah penumpang yang lain.Kebanyakan para karyawan dan pegawai instansi pemerintah. Beberapa diantaranya para wanita. Ah, andai saja. Ia memaki dalam hati kemudian merogoh saku celana mencari sebungkus rokok. Ah, ia memaki lagi. Belum sabatang rokopun mampir sedari tersadarnya ia. Sangat tidak dianjurkan pula merokok dalam pete-pete yang notabene saran public. Dengan helaan nafas pendek yang tidak kentara, ia melihat ke depan. Ke arah jalan raya, melalui kaca belakang mobil. Dan untungnya hari ini cuaca tampaknya tidak terlalu panas.

Gangguan kecilnya datang lebih awal. Agak tidak percaya, ia membalas senyuman seorang laki-laki. Mungkin, yang empunya senyuman sedari tadi telah menyunggingkan bibir untuknya. Tapi, membutuhkan beberapa waktu untuk menyadari itu. Laki-laki itu masih tersenyum kepadanya. Sambil memperhatikan diri dan pakaiannya yang memang tidak ada yang salah, ia coba menduga. Dan sekarang aksi lelaki itu ditambah anggukan kepala yang halus. Ia malah melewatkan itu. Memandang sekenanya ke arah samping, mencoba menerka-nerka siapa gerangan laki-laki ini. Tak ada satupun wajah dari wajah teman-temannya yang mampir. Mungkin teman lama..? Satu almamater di universitas...? Atau masa-masa sekolahan ? Ah, tidak juga. Ia memberanikan diri melihat lagi wajah sang lelaki. Dan masih tersenyum. Ia mencoba beradu mata dengannya. Mencari sesuatu di sana. Memori yang mungkin disisakan untuknya. Setelah cukup lama, ia mantap menggelengkan kepala. Si lelaki yang punya senyuman, masih tersenyum. Sepertinya ia tertawa kecil sekarang. Menertawai kebodohannya mungkin. Menertawai kealpaannya. Menertawai dirinya secara langsung.

Naluri itu masih dapat ditahan. Naluri untuk membela harga diri yang seakan diremehkan di tempat umum masih bisa ia atasi. Dengan agak jengkel ia kembali memperhatikan jalan raya. Tinggal beberapa meter lagi ia tiba di kantornya. Mungkin, teman-teman sudah ada di kantin sebagian. Mengikuti alur pete-pete yang jalan melambat sekarang, ia pelan-pelan berfikir. Aksi apa yang bagus untuk laki-laki ini. Untuk memberikan pelajaran bagaimana orang bersikap pada pertemuan pertama. Untuk menghentikan aksi kekurangajarannya. Untuk menyudahi sikap merendahkann dirinya di depan umum. Tiga alasan ini tampaknya bagus untuk dikemukakan. Dan itu bukan sebuah kesalahan atau tindakan kriminal. Mungkin sang lelaki ini hanya akan menerima umpatan, dihardik di depan penumpang yang masih ada. Atau mungkin, sang lelaki ini akan menerima ancaman di depan umum. Atau, apalah itu. Yang penting, akan memberinya sebuah kesan.

"Kiri, pak !", hampir saja ia melewati halaman kantornya. Disebabkan lelaki itu. Ketika akan turun dari pete-pete, ia masih melihat senyuman lelaki itu sekali lagi. Ia segera turun. Ia tidak mengambil aksi apa-apa. Segera rencana kecil yang ia susun sebelum turun buyar dengan tiba-tiba. ia merogoh kantong celana mencari uang kecil untuk membayar ongkos pete-petenya.
"Jalan saja, Pak !" seseorang berteriak tiba-tiba dari dalam pete-pete. Suara lelaki yang dari tadi tersenyum kepadanya. Ia semakin tidak mengerti.
"Nanti saya yang bayar, Pak !" ia berteriak sekali lagi dan segera sopir pete-pete memacu mobilnya. Dan lelaki itu masih tersenyum melewatinya.

Cukup sudah. Suara bass lelaki itu, tampaknya tidak asing. Pernah terekam dalam memori suara, tapi tidak memiliki gambar. Suara bass lelaki itu menyadarkan semuanya. Siapa dirinya yang dari tadi tersenyum kecil dan agak tertawa kepadanaya. Suara bass yang sama di malam yang dingin. Suara bass yang sama dengan teriakan "maling" beberapa bulan yang lalu. Ah, andai saja. Ia kembali mengumpat dalam hati.
8:31 AM | 0 comments

Welcome Guys

Categories